Tag Archives: Gotong Royong

Masyarakat Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang yang terbagi dalam lima dusun secara serentak melakukan kerja bakti bersih-bersih , Jumat (20/1)di lingkungannya masing-masing.

Gerakan Jumat bersih yang dilakukan secara serentak satu desa dilakukan setiap hari Jumat Kliwon, para ibu-ibu membersihkan di lingkungannya masing-masing dan bapak-bapak membersihkan jalan utama desa. Kepala Desa Kuta, Samsuri yang terjun langsung bersama masyarakat menjelaskan bahwa untuk menyambut Hari Jadi Kota Pemalang yang ke 442 kami ingin menciptakan wajah dan lingkungan Desa Kuta yang bersih.

Dengan kebersihan lingkungan tersebut, diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi masyarakat yang setiap harinya beraktivitas melewati jalan tersebut. “Sangat penting menjaga kebersihan lingkungan jalan. Karena, akses jalan ini sangat penting bagi masyarakat kami. Budaya begotong royong seperti ini sudah dilakukan sejak dulu dan akan terus berlangsung pada generasi-generasi mendatang,” Kita akan selalu menjaga tradisi “kerigan” di setiap Jumat Kliwon.

Warga Dusun Suwuk RT 03 RW 03 Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang mengawali kegiatan pembangunan saluran drainase dengan melakukan kerja bakti, Jumat, 18 Nopember 2016.
Pembangunan saluran drainase yang berlokasi di Dusun Suwuk tersebut dibiayai dari APBDes Tahun Anggaran 2016 yang bersumber dari Dana Desa (DD) sebesar Rp 49.716.000,- Salah seorang warga Rozikin (40 ) merasa senang karena usulan warga RT 03 RW 03 yang diajukan pada musyawarah perencanaan pembangunan tahun 2015 dapat terealisasi pada tahun ini. “Pada musim hujan air mengalir lewat badan jalan sehingga jalan semakin rusak, dengan pembangunan saluran drainase penyebab kerusakan jalan dapat diminimalisir” tambah Rozikin.
Nampak dengan senang hati dan guyub warga melakukan kerja bakti dan rencananya seluruh pekerjaan galian dilakukan dengan swadaya. Selain sawadaya tenaga, warga juga sudah menyiapkan swadaya dalam bentuk material yaitu batu kali.

Tidak dipungkiri pada era saat ini sangat sulit untuk menumbuhkan swadaya dalam setiap kegiatan pembangunan di desa. Pada era PNPM MPd (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan) swadaya menjadi syarat dalam penilaian skala prioritas di tingkat kecamatan. Bisa dikatakan swadaya menjadi keharusan dalam kegiatan pembangunan yang akan dibiayai oleh PNPM.

Seiring dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa, kini setiap desa mendapat kucuran dana dari Pemerintah (baca : Dana Desa) yang mulai berlaku tahun 2015. Kini pemangku kepentingan di desa harus bisa melestarikan budaya swadaya di desa dalam setiap kegiatan pembaangunan. Saat ini pemikiran yang berkembang di masyarakat adalah bahwa setiap pembangunan itu sudah ada dananya, termasuk untuk tenaga mengapa harus kerja bakti ?. Di sinilah peran kepala desa dan perangkat desa beserta tokoh masyarakat untuk bisa meluruskan pemikiran yang keliru yang sudah berkembang di masyarakat.

Jika kita berbicara masa lalu, mudah sekali menemukan budaya gotong royong dalam berbagai bentuk. Mulai dari kerja bakti yang seringkali dilakukan warga masyarakat setiap satu minggu sekali hingga budaya gotong royong antar umat beragama. Budaya gotong royong adalah identitas nasional. Karenanya, budaya gotong royong seharusnya terus dijaga supaya terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Istilah gotong royong berasal dari bahasa Jawa. Gotong berarti pikul atau angkat, sedangkan royong berarti bersama-sama. Sehingga jika diartikan secara harafiah, gotong royong berarti mengangkat secara bersama-sama atau mengerjakan sesuatu secara bersama-sama. Gotong royong dapat dipahami pula sebagai bentuk partisipasi aktif setiap individu untuk ikut terlibat dalam memberi nilai positif dari setiap obyek, permasalahan, atau kebutuhan orang-orang di sekelilingnya.

Di Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang kabupaten Pemalang pada tahun 2016 tercatat ada tujuh kegiatan pembangunan yang didanai lewat DD (Dana Desa) dan dua kegiatan pembangunan yang didanai lewat ADD (Alokasi Dana Desa) Semua kegiatan tersebut melibatkan peran aktif masyarakat dalam pelaksanaannya, terutama kegiatan Pembangunan Rabat Beton, atas inisiatif sendiri dari masyarakat, mereka bersawadaya dalam bentuk tenaga.

Kepala desa dan perangkat desa seharusnya bisa merangkul semua tokoh masyarakat, agama yang notabene menjadi panutan masyarakat untuk selalu menggerakan budaya gotong royong dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kegiatan pembangunan di desa. Singkatnya budaya gotong royong entah itu atas inisitaif masyarakat, atau gotong royong yang dipaksakan masih ada di Desa Kuta.

Menurut Koentjaraningrat budaya gotong royong yang dikenal oleh masyarakat Indonesia dapat dikategorikan ke dalam dua jenis, yakni gotong royong tolong menolong dan gotong royong kerja bakti. Budaya gotong royong tolong menolong terjadi pada aktivitas pertanian, kegiatan sekitar rumah tangga, kegiatan pesta, kegiatan perayaan, dan pada peristiwa bencana atau kematian. Sedangkan budaya gotong royong kerja bakti biasanya dilakukan untuk mengerjakan sesuatu hal yang sifatnya untuk kepentingan umum, entah yang terjadi atas inisiatif warga atau gotong royong yang dipaksakan.