Archives

Berita

Pagelaran wayang kulit semalam suntuk oleh ki dalang Mangun Yuwono dari Comal Pemalang untuk memeriahkan serangkaian cara ruwat bumi di Desa Kuta. Pentas wayang dengan lakon Sekar Tanjung Biru digelar di lapangan Desa Kuta. Acara dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Bapak Agus Sukoco selaku Ketua DPRD Kabupaten Pemalang turut hadir dalam acara tersebut.

Sebelum pagelaran wayang kulit dimulai, penonton disuguhkan penampilan tari tombak oleh anak-anak dari Sanggar Seni Larasati Desa Kuta. kemudian dilanjutkan sambutan dari ketua panitia ruwat bumi dan sambutan dari Kepala Desa Kuta, Acara dibuka langsung oleh Agus Sukoco selaku ketua DPRD Kabupaten Pemalang, ditandai dengan penyerahan wayang Jenaka oleh Agus Sukoco kepada ki dalang Mangun Yuwono.

Masyarakat sangat antusias menonton pertunjukan wayang kulit oleh Ki Mangun Yuwono. Penonton yang hadir meliputi masyarakat seluruh desa kuta, dari dukuh si panjang hingga dukuh penusuhan, dan ada pula penonton dari lain desa. Selain itu banyak penjual-penjual makanan dan mainan anak-anak yang membuat suasana pada acara tersebut semakain ramai dipadati pengunjung.

Tradisi Ruwat Bumi merupakan tradisi tahunan bagi masyarakat Desa Kuta. Ruwat Bumi dilaksanakan pada hari senin, 16 September 2019. Adapun rangkaian acara yang pertama adalah grebeg kuta yang diikuti oleh semua kalangan masyarakat Desa Kuta. Seperti yang kita tahu, tradisi ruwat bumi dilakukan dalam rangka menyambut tahun baru islam atau orang jawa menyebut suronan, selain sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dlam bentuk tumpeng atau ambeng.

Grebeg Kuta dimulai di halaman balai desa kuta sekitar pukul 08.00 WIB, dan akan finish di Lapangan Desa Kuta, Barisan dipimpin oleh Mbah Samad selaku sesepuh Desa Kuta. Kemudian disusul oleh Barisan Bhineka Tunggal Ika  yang memiliki arti menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan khusunya di masayarakat Desa Kuta, barisan ini terdiri dari burung garuda besar, bendera merah putih, dan drumband dari siswa-siswa SMPN 4 Bantarbolang. Sementara itu barisan kedua adalah pengiring sedekah bumi yang terdiri dari umbul-umbul, pasukan srikandi, ambeng besar dari desa dan susun, seseuh para alim ulama, seni kuda kepang, perangkat desa (karang taruna, kelompok tani, ibu-ibu PKK, LMDH, jamaah Al Hidayah, Ketua RT/RW, paguyuban jemaah thlil, priyatomo, rebana masyarakat Desa Kuta, Kesenian.

Masyarakat sangat antusias untuk melihat grebek kuta meskipun konsep yang disajikan masih sama dengan tahun-tahun seselumnya. Semua masyarakat Desa Kuta gotong royong untuk mendukung kesuksesan acara ini, mulai dari kebersihan dan penataan umbul-umbul di sepanjang jalan, bergiliran mengambil air untuk kebutuhan konsumsi, tak hanya itu tiap-tiap RT di Desa Kuta juga memberikan bantuan makanan untuk acar ini dengan sukarela. Sementara itu, siang harinya ada pagelaran wayang kulit oleh ki dalang Suradi.

Latihan tari Jawa di sanggar seni larasati (Sanila) Desa Kuta setiap seminggu dua kali rutin dilakukan. Peserta yang ikut mulai dari anak-anak sampai dengan remaja. Kegiatan tersebut selain untuk melestarikan budaya jawa juga untuk mengasah bakat anak-anak. Peserta dilatih langsung oleh Isnaeni Destiana.

Berbagai macam tari jawa klasik dipelajari, seperti tari gambyong, tari slendang pemalang, tari candik ayu dan lain-lain. Biasanya jika ada kegiatan pentas seni di Desa Kuta, Sanggar akan menampilkan beberapa tarian Jawa. Selain tahu teknik menari, peserta juga dapat melatih kepercayaan diri mereka, supaya ketika waktunya untuk tampil dalam suatu acara mereka dapat tampil dengan maksimal. Sementara itu, sanggar seni larasati sering menikuti lomba dan mendapatkan prestasi cukup banyak.

Tidak hanya tari, Sanila juga rutin mengadakan latihan karawitan setiap malam senin. Keberadaan Sanila sangat membantu meningkatan potensi budaya yang dimilki oleh Desa Kuta. Diharapkan kebudayaan-kebudayaan Jawa di Desa Kuta dapat tetap lestari seiring dengan zaman yang terus berkembang.