Tradisi Ruwat Bumi merupakan tradisi tahunan bagi masyarakat Desa Kuta. Ruwat Bumi dilaksanakan pada hari senin, 16 September 2019. Adapun rangkaian acara yang pertama adalah grebeg kuta yang diikuti oleh semua kalangan masyarakat Desa Kuta. Seperti yang kita tahu, tradisi ruwat bumi dilakukan dalam rangka menyambut tahun baru islam atau orang jawa menyebut suronan, selain sebagai bentuk rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang diwujudkan dlam bentuk tumpeng atau ambeng.

Grebeg Kuta dimulai di halaman balai desa kuta sekitar pukul 08.00 WIB, dan akan finish di Lapangan Desa Kuta, Barisan dipimpin oleh Mbah Samad selaku sesepuh Desa Kuta. Kemudian disusul oleh Barisan Bhineka Tunggal Ika  yang memiliki arti menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan khusunya di masayarakat Desa Kuta, barisan ini terdiri dari burung garuda besar, bendera merah putih, dan drumband dari siswa-siswa SMPN 4 Bantarbolang. Sementara itu barisan kedua adalah pengiring sedekah bumi yang terdiri dari umbul-umbul, pasukan srikandi, ambeng besar dari desa dan susun, seseuh para alim ulama, seni kuda kepang, perangkat desa (karang taruna, kelompok tani, ibu-ibu PKK, LMDH, jamaah Al Hidayah, Ketua RT/RW, paguyuban jemaah thlil, priyatomo, rebana masyarakat Desa Kuta, Kesenian.

Masyarakat sangat antusias untuk melihat grebek kuta meskipun konsep yang disajikan masih sama dengan tahun-tahun seselumnya. Semua masyarakat Desa Kuta gotong royong untuk mendukung kesuksesan acara ini, mulai dari kebersihan dan penataan umbul-umbul di sepanjang jalan, bergiliran mengambil air untuk kebutuhan konsumsi, tak hanya itu tiap-tiap RT di Desa Kuta juga memberikan bantuan makanan untuk acar ini dengan sukarela. Sementara itu, siang harinya ada pagelaran wayang kulit oleh ki dalang Suradi.