Archives

OPINI

Di Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang banyak tumbuh pohon aren, terutama di lereng-lereng. Pohon aren ini tumbuh secara alami, karena pemilik tanah tidak menanam atau membudidayakannya.

Pemilik pohon aren biasannya menjual dengan sistem tebasan kepada tengkulak. Itupun dilakukan apabila ada tengkulak dari daerah lain yang masuk ke Desa Kuta untuk menebas pohon arennya, rata-rata tiap pohonnya hanya di hargai antara 40 -50 ribu rupiah. Oleh tengkulak , pohon aren tersebut ditebang dan dipotong-potong dengan ukuran panjang satu meter. Dan selanjutnnya di kirim ke salah satu pabrik pembuatan mie bihun di kota Semarang. Terlalu murah, memang. karena lokasi pohon aren itu berada di lereng-lereng yang tentunya tingkat kesulitannya lebih tinggi, jika dibandingkan di tempat yang datar.

Hanya itu yang didapatkan oleh pemilik pohon aren, padahal masih banyak manfaat dari pohon aren tersebut diantarannya buah yang diambil untuk di olah menjadi kolang-kaling, ijuknnya yang digunakan untuk membuat bahan sapu. Disamping itu Pada bagian bunga ini dihasilkan nira yang berasal dari penyadapan tongkol atau tandan bunga. Penyadapan nira ini dilakukan pada tandan bunga jantan karena bunga jantan dapat menghasilkan kualitas nira yang baik dan juga didapat hasil dalam jumlah yang banyak. Hasil dari air aren dapat diolah menjadi gula aren,  cuka dan minuman segar.

Untuk bisa memanfaatkan pohon aren secara maksimal butuh ketrampilan, jiwa usaha serta kemauan yang sangat keras. dan ini tentunnya membutuhkan dukungan dan perhatian pemerintah.

 

Tidak dipungkiri bahwa untuk keperluan administrasi di desa, para perangkat desa lebih memilih laptop ketimbang  PC (Personal Computer).  Seperti halnya di kantor balai Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang, di situ ada 6 laptop dan 1 PC yang semuanya digunakan untuk pekerjaan administrasi di kantor Desa Kuta.

Sudah menjadi hal yang biasa, memindahkan atau menkopi file dari satu laptop ke laptop yang lain dengan flashdik. Tapi  lebih praktis lagi, ini yang dilakukan di Kantor Balai Desa Kuta Kecamatan Bantarbolang, ke enam laptop yang ada tersebut terkoneksi dalam satu jaringan dengan menggunakan wifi.  Dengan membuat jaringan mereka tidak repot-repot lagi mencolokan flashdisk untuk mengkopi atau memindahkan data dari satu laptop ke laptop yang lain. Ini akan sangat memudahkan dalam pengerjaan suatu file yang harus dikerjakan oleh beberapa orang, misalnya untuk pendataan lahan pertanian, entri data  atau edit data untuk keperluan aplikasi, misalnya SIDEKEM (Sistem Informasi Desa dan Kawasan Pemalang) atau aplikasi yang lain. Sekedar berbagi, ini langkah-langkah yang harus dilakukan untuk membuat jaringan data di lingkungan Kantor. Untuk membaca tutorial lengkapnya Klik DI SINI.

Bisa dibayangkan alangkah lebih mudah lagi  pengerjaan administrasi desa, apabila setiap desa di Kecamatan Bantarbolang  atau di seluruh Kabupaten Pemalang terkoneksi dengan satu jaringan  termasuk di dalamnya BAPERMAS-KB Pemalang atau SKPD yang lain yang berkepentingan dan tentunya butuh dukungan sepenuhnya dari desa-desa di Kabupaten Pemalang. Kapan bisa dilakukan ? Jawabannya ada di PUSPINDES dan BAPERMAS – KB, kita tunggu inovasinya.

Pembangunan pertanian tidak terlepas dari peran serta masyarakat tani sebagai pemutar roda perekonomian negara. Dengan peran tersebut maka perlu pemberdayaan masyarakat tani sehingga petani mempunyai ”power”/kekuatan yang mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Salah satu usaha pemerintah bersama petani dalam rangka membangun upaya kemandirian petani dibentuklah kelompok-kelompok tani di perdesaan.

Tumbuh dan berkembangnya kelompok-kelompok dalam masyarakat, umumnya didasari oleh adanya kepentingan dan tujuan bersama, sedangkan kekompakan kelompok tersebut tergantung pada faktor pengikat yang dapat menciptakan keakraban individu-individu anggota kelompok.

Pada era saat ini gaung “penyuluhan pertanian” kelihatannya mulai redup, tidak segencar pada era orde baru. Padahal peran Penyuluh pertanian masih sangat dibutuhkan oleh para petani. Para petani di Desa Kuta pada dua musim tanam terakhir banyak yang mengalami gagal panen, baik karena serangan hama wereng maupun serangan tikus. Usaha yang dilakukan para petani tidak dilakukan secara komunal, artinya mereka bekerja secara sendiri-sendiri.

Seharusnya menghadapi permasalahan-permasalahan tersebut peran kelompok tani sangat dibutuhkan. Atas inisiatif sendiri melalui pertemuan kelompok tani diadakan penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh lapangan yang ada. Kenyataan di lapangan menunjukan bahwa sebagian besar kelompok tani yang ada sekarang telah dibentuk (bukan terbentuk) pada masa lalu dan menjadi warisan untuk para penyuluh pertanian pada masa sekarang. Hal ini menyebabkan masih banyak kelompok tani yang tingkat kemandiriannya rendah dan masih tergantung pada intervensi program pemerintah.

%d blogger menyukai ini: